Lompat ke isi utama

Berita

Menyemai Demokrasi dari Bangku Sekolah, Bawaslu Kota Makassar Gandeng Pelajar Tangkal Hoaks dan Jadi Pengawas Partisipatif

MAKASSAR _Demokrasi yang sehat tidak lahir secara instan di bilik suara, melainkan dipupuk dari kebiasaan-kebiasaan kecil di lingkungan sekolah. Menyadari pentingnya peran pemilih muda, Bawaslu Kota Makassar menyambangi SMAN 12 dan SMAN 10 Makassar untuk menggelar edukasi pendidikan politik dan pengawasan partisipatif. Kamis, 24 September 2026

Di SMA Negeri 12 Makassar, resonansi kesadaran politik itu menggema dari dalam masjid sekolah. Kegiatan yang berlangsung khidmat tersebut mengangkat tajuk “Pengawasan Partisipatif Pemilu yang Luber dan Jurdil”. Acara ini tidak sekadar menjadi ajang sosialisasi satu arah, melainkan ruang dialog interaktif yang dihadiri jajaran guru, serta perwakilan siswa dari setiap kelas.

Kordiv Penanganan Pelanggaran, Data, dan Informasi Bawaslu Kota Makassar, Rachmat Sukarno, S.H, membuka pemaparannya dengan apresiasi mendalam kepada pihak sekolah. Ia menitipkan sebuah perspektif penting bahwa pemilihan ketua OSIS bukanlah rutinitas administratif semata, melainkan miniatur dari proses bernegara.

"Pemilihan ketua OSIS ini ibaratnya kalian memiliki negara tersendiri. Penentuan pemilihan ketua OSIS dan pemilihan presiden itu pada dasarnya sama prosesnya, karena warganya adalah siswa-siswi yang bersekolah di sini. Di sinilah titik persamaan antara pendidikan internal di sekolah dan dinamika di luar sekolah," ujar Rachmat di hadapan para pelajar.

Gegap gempita edukasi ini akan segera menemui ujian praktiknya. SMAN 12 Makassar, sebagai contoh, telah mencatat Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang cukup masif, yakni mencapai kurang lebih 1.130 siswa—jumlah yang masih dinamis menyesuaikan kondisi terkini. Panggung Pemilu Sekolah ini akan menghadirkan persaingan sengit namun sehat dari dua pasangan calon (Paslon) Ketua OSIS serta dua pasangan calon Ketua Majelis Perwakilan Kelas (MPK).

Rachmat mengingatkan bahwa esensi Luber (Langsung, Umum, Bebas, Rahasia) dan Jurdil (Jujur, Adil) harus dikawal ketat sedari muda demi menangkal penyakit klasik demokrasi, seperti money politic atau "serangan fajar". Di samping itu, ia juga mengimbau para siswa yang telah atau segera genap berusia 17 tahun untuk proaktif memastikan hak pilih mereka terdata menjelang Pesta Demokrasi sesungguhnya.

Anggota Bawaslu Kota Makassar Eric David Andreas, S.H, juga hadir memberikan dorongan dalam lawatan ke SMA Negeri 10 Makassar. Erik memberikan suntikan moral dan kesadaran kritis kepada para siswa, mengajak para pelajar untuk berdiri di garda terdepan menolak hoaks dan kampanye hitam (black campaign) yang berpotensi memecah belah dan merusak kualitas pemilu.

"Kalian adalah generasi yang melek digital, jangan sampai jari kalian dimanipulasi oleh informasi palsu dan kampanye hitam. Tolak hoaks dengan literasi yang cerdas," tegas Eric.

Lebih jauh, ia menyadari keterbatasan personel pengawas dari pihak Bawaslu tidak akan cukup menjangkau seluruh lini tanpa bantuan masyarakat. Oleh karena itu, Eric memberikan tantangan sekaligus kehormatan bagi para pelajar. "Jadilah mata dan telinga Bawaslu di lapangan. Awasi lingkungan kalian, dan jangan takut untuk melaporkan jika ada kecurangan."

Bawaslu Kota Makassar berharap kelak akan lahir generasi cerdas berintegritas—para pemilih tangguh yang kelak akan menjadi denyut nadi tegaknya demokrasi di Indonesia.

 

Penulis : Humas Bawaslu Kota Makassar