Lompat ke isi utama

Berita

Dr. Abdillah Mustari: Spirit Perjuangan Keadilan Pemilu Menjadi Ruh Kehadiran Bawaslu

Bawaslu Kota Makassar

Bawaslu Kota Makassar kembali menjadi ruang refleksi demokrasi melalui kegiatan Ngabuburit Pengawasan yang digelar Sabtu, 6 Maret 2026 di Media Centre Bawaslu Kota Makassar serta secara daring melalui Zoom. Dalam kegiatan tersebut, mantan Ketua Bawaslu Kota Makassar, Abdillah Mustari, turut memberikan pandangan reflektif mengenai spirit kelembagaan Bawaslu.

Dalam paparannya, Abdillah menegaskan bahwa salah satu hal yang membedakan Bawaslu dengan banyak lembaga lainnya adalah adanya semangat perjuangan di dalamnya. Menurutnya, Bawaslu tidak sekadar menjalankan fungsi administratif, tetapi memiliki misi besar untuk memperjuangkan keadilan dalam setiap proses pemilu.

“Yang membedakan Bawaslu dengan tempat lain adalah karena di sini ada semangat berjuang. Semangat untuk memperjuangkan keadilan pemilu. Inilah spirit yang menjadi kunci kehadiran Bawaslu,” ujarnya.

Ia kemudian mengaitkan nilai tersebut dengan perspektif budaya Sulawesi Selatan, khususnya dalam tradisi Bugis-Makassar. Abdillah menjelaskan bahwa dalam pandangan budaya lokal terdapat setidaknya tiga karakter atau hakikat manusia, yakni Tau Tongeng, Rupa Tau, dan Tau-tau.

Menurutnya, Tau Tongeng adalah manusia yang memiliki integritas, kejujuran, dan keteguhan moral dalam menjalankan prinsip hidup. Sementara Rupa Tau menggambarkan manusia yang secara lahiriah tampak seperti manusia, tetapi belum sepenuhnya menunjukkan nilai-nilai integritas dalam tindakan. Adapun Tau-tau dalam konteks budaya Bugis-Makassar sering dimaknai sebagai simbol atau patung manusia—yang secara bentuk menyerupai manusia, namun tidak memiliki ruh atau nilai di dalamnya.

Abdillah berharap lembaga pengawas pemilu seperti Bawaslu diisi oleh orang-orang yang tidak sekadar hadir secara formal, tetapi memiliki karakter yang kuat dalam memperjuangkan nilai demokrasi.

“Kalau dari tiga karakter itu, minimal di Bawaslu hadir orang-orang yang berkarakter Rupa Tau. Tetapi tentu harapan kita lebih dari itu, yakni hadir banyak orang yang berkarakter Tau Tongeng, yang memiliki integritas dan keberanian memperjuangkan kebenaran,” jelasnya.

Ia menambahkan, karakter seperti inilah yang akan membuat spirit kelembagaan Bawaslu benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas.

Di akhir penyampaiannya, Abdillah Mustari menegaskan bahwa keberadaan Bawaslu harus memiliki makna nyata bagi publik, terutama dalam menjaga keadilan pemilu.

“Jika masyarakat tidak merasakan spirit Bawaslu, maka untuk apa ada Bawaslu,” tutupnya.

Pandangan tersebut menjadi refleksi penting dalam kegiatan Ngabuburit Pengawasan, yang tidak hanya menjadi forum diskusi, tetapi juga ruang penguatan nilai-nilai integritas dan komitmen dalam menjaga kualitas demokrasi.

Editor: @rminth

Foto: Humas Bawaslu Kota Makassar