Lensa Pengawasan: Arga dan Cahaya Demokrasi Kota Daeng (Bagian 7 : Ancaman dan Fitnah)
|
Kantor Bawaslu Kota Daeng, yang biasanya hanya dipenuhi berkas laporan dan suara mesin printer, kini mulai terasa seperti markas komando dalam masa krisis. Setiap pagi Arga masuk, aroma kopi baru bercampur dengan bau kertas lembap dan suara dering notifikasi yang tak pernah berhenti. Hanya dalam kurun beberapa minggu, sejak PantauKita.id semakin populer, ritme kerja kantor itu berubah total.
Tumpukan laporan digital memenuhi layar monitor. Foto amplop dengan logo partai, rekaman suara bisik-bisik politik uang di warung kopi, tangkapan layar transfer dana mencurigakan, sampai video pelaku yang terekam dari balik jendela rumah warga. Semua datanya masuk ke satu jalur: meja Arga.
“Kalau begini terus, server bisa jebol, Pak,” keluh Nabila, Staf Pencegahan yang ditugaskan membantu memilah data. Rambutnya yang dikuncir terlihat kusut akibat begadang beberapa malam.
Arga hanya tertawa kecil. “Biarkan server yang panas daripada integritas yang dingin,” katanya sambil memberikan pandangan menenangkan.
Nabila tertawa, meski suaranya lelah. “Pak Arga nih, masih sempat bercanda.”
Tetapi suasana yang tampak santai itu tak bertahan lama. Di balik volume laporan yang meningkat, Arga tahu ada sesuatu yang mulai bergerak di luar. Setiap kali ia menelusuri bukti dari PantauKita.id, ia tahu ada pihak yang dirugikan — dan pihak itu bukan tipe yang diam.
Malam itu, kantor sudah sepi. Hanya cahaya lampu temaram di ruang tengah yang masih menyala. Arga merapikan map berisi laporan hasil verifikasi lapangan. Ia memasukkan laptop ke tas, berniat pulang ketika ponselnya bergetar.
Pesan singkat masuk dari nomor tidak dikenal.
“Berhenti korek hal yang bukan urusanmu. Kami tahu di mana kamu tinggal.”
Arga terpaku. Matanya menatap layar ponsel cukup lama sampai bayangan huruf tampak bergetar. Jantungnya berdegup cepat, namun wajahnya tetap tenang — latihan bertahun-tahun menghadapi konflik membuatnya pandai menyembunyikan kecemasan.
Di ruang sebelah, Sinta yang masih berkutat di depan laptop memperhatikan perubahan kecil pada raut wajah Arga. “Wajahmu pucat,” katanya sambil mendekat. “Kenapa?”
Arga tak berkata apa-apa. Ia hanya menyerahkan ponsel itu.
Sinta membaca pesannya. Napasnya langsung memburu. “Mereka mulai main kotor…” gumamnya, suaranya rendah namun penuh amarah.
Arga menghela napas panjang dan mencoba tersenyum, meski senyum itu lebih mirip guratan pahit. “Tandanya kita di jalur yang benar.”
Sinta menatapnya lama, seakan mencoba memastikan apakah ia sungguh baik-baik saja. “Kamu ini… kenapa selalu bisa setenang itu?”
Arga mengangkat bahu. “Kalau saya panik, siapa yang tenangkan kamu?”
Kata-kata itu membuat Sinta tiba-tiba terdiam. Pipinya bersemu, dan ia buru-buru kembali ke depan laptop, pura-pura fokus pada layar.
Namun ancaman tidak berhenti di situ.
Beberapa hari kemudian, ketika Arga masuk kantor, suasana berbeda dari biasanya. Nabila langsung datang menghampiri dengan wajah panik dan sebuah ponsel di tangan.
“Pak, lihat ini!” katanya sambil memperlihatkan unggahan dari sebuah akun anonim. Postingan itu berisi foto Arga sedang berjalan keluar dari hotel—foto lama yang diedit dan diberi narasi palsu bahwa ia menerima dana dari salah satu kandidat.
Dalam hitungan jam, postingan itu sudah disebarkan ratusan kali. Komentar-komentar pedas bermunculan, menuduhkan Arga sebagai pengawas yang tidak netral.
Sinta datang tergesa-gesa begitu mendengar kabar itu. Begitu melihat isi postingan, ia langsung memukul meja dengan keras. “Ini framing! Mereka pakai akun palsu buat jatuhin kamu!”
Arga tetap duduk tenang, meski matanya sedikit memerah menahan kalut. “Biar saja,” katanya pelan. “Kebenaran nggak butuh klarifikasi instan. Butuh waktu.”
Sinta menatapnya tak percaya. “Kamu terlalu tenang. Itu yang bikin jengkel,” katanya dengan suara bergetar antara marah dan peduli.
Arga akhirnya menatapnya langsung, memancarkan ketegasan yang sulit digoyahkan. “Sinta, kalau saya ikut terbawa emosi, bagaimana saya bisa tetap objektif? Kita sedang berhadapan dengan orang yang ingin kita kehilangan fokus.”
Sinta menghembuskan napas keras. “Ya, tapi tetap saja! Mereka menjatuhkan nama baik kamu!”
Arga tersenyum tipis. “Nama bisa dibersihkan. Integritas cuma bisa dijaga.”
Sinta terdiam lagi. Untuk beberapa detik, kafe malam itu, hujan, tawa mereka—semua seperti kembali melintas di kepalanya. Ia memperhatikan Arga lebih lama dari biasanya, melihat ketenangan yang justru membuatnya tak nyaman sekaligus kagum.
“Kamu…” bisiknya, “…kadang bikin orang marah. Tapi juga bikin orang… percaya.”
Pipi Sinta kembali merona. Ia cepat-cepat memalingkan wajah, tak ingin ketahuan.
Di luar kantor, awan hitam kembali menggantung. Laporan dari PantauKita.id terus mengalir. Dan di suatu tempat di hotel berbintang, Farid Mahendra mungkin sedang tersenyum tipis melihat benih kekacauan mulai tumbuh.
Ancaman baru saja dimulai.
Dan Arga tahu, badai yang lebih besar sedang dalam perjalanan.
(bersambung)
Penulis dan Editor : @rminth