Lensa Pengawasan: Arga dan Cahaya Demokrasi Kota Daeng (Bagian 8: Suara dari Lorong-Lorong Kota)
|
Tekanan terhadap PantauKita.id makin besar dari berbagai arah. Ancaman somasi, fitnah di media sosial, hingga tekanan halus dari beberapa pejabat mulai terasa menggigit. Namun justru di saat yang sama, dukungan masyarakat tumbuh lebih cepat dari yang pernah mereka bayangkan.
Relawan dari kampus-kampus di Kota Daeng mulai bermunculan, membawa semangat baru. Komunitas seni, fotografer jalanan, hingga kelompok mahasiswa hukum yang biasanya sibuk dengan kuliah kini ikut turun. Mereka memenuhi lorong-lorong kota dengan energi yang mengalir seperti listrik.
Di sepanjang tembok dekat pelabuhan Paotere, mural-mural baru muncul hampir setiap malam. Gambar tangan mengepal, mata yang mengawasi, dan tulisan besar yang menyala dengan cat warna-warni: “Demokrasi Kita, Tanggung Jawab Kita.” Anak-anak muda lorong ikut membantu mencampur cat, memegang lampu sorot, bahkan memberikan ide gambar.
Ibu-ibu warung pun tak mau ketinggalan. Tanpa banyak bicara, mereka menempel stiker PantauKita.id di etalase kaca, di termos es, di toples biskuit, bahkan di tiang listrik depan warung. “Biar orang tau, Nak,” kata salah satu ibu sambil tersenyum bangga, “yang jual mi goreng juga peduli suara rakyat.”
Sore itu, Arga dan Hasyim turun langsung ke lokasi pelatihan relawan di sebuah balai kecil dekat kawasan Rappocini. Ruangannya sederhana, hanya kipas angin tua yang berputar pelan, tapi penuh dengan puluhan anak muda yang bersemangat. Mereka duduk melingkar, sebagian membawa laptop, sebagian hanya bermodalkan buku catatan, tapi tatapan mereka sama: fokus.
“Anak-anak muda ini semangat, tapi jangan sampai salah arah,” gumam Hasyim, berdiri di dekat pintu sambil memperhatikan kerumunan.
“Makanya, kita damping,” jawab Arga perlahan. “Kita bukan menolak partisipasi, Daeng. Justru kita mau arahkan, supaya energi mereka bukan cuma meledak, tapi tepat sasaran.”
Hasyim mengangguk, wajahnya serius. “Bahaya kalau salah satu dari mereka terpancing provokasi. Lawan-lawan kita sedang menunggu momen seperti itu.”
Arga menepuk bahunya. “Tenang. Kita awasi bareng-bareng.”
Di tengah keramaian, Sinta muncul dengan langkah cepat. Dengan rambut yang diikat sederhana dan tangan memegang beberapa lembar materi, ia naik ke atas sebuah kursi plastik untuk menarik perhatian semua orang.
“Teman-teman!” serunya lantang.
Kerumunan langsung hening.
Sinta menatap mereka satu per satu sebelum mulai berbicara, suaranya kuat namun penuh empati.
“Kalau bukan kita yang awasi, siapa lagi? Kalau suara dijual, jangan heran kalau pemimpin juga jual janji!”
Sorak-sorai pecah. Beberapa relawan menepuk meja, yang lain mengangkat tangan ke udara. Energi ruangan mendadak bergolak.
Sinta melanjutkan, suaranya semakin berapi-api, “Kita tidak hanya awasi pemilu. Kita awasi masa depan kota ini. Masa depan adik-adik kita. Masa depan ibu-ibu yang tiap hari berjuang hidup dari warung kecil. Jangan biarkan suara mereka hilang!”
Tepuk tangan menggema. Bahkan beberapa warga yang lewat berhenti di depan jendela untuk ikut mendengarkan.
Dari jauh, Arga memperhatikannya diam-diam. Ada sesuatu dalam cara Sinta berbicara, ketegasan, keberanian, sekaligus ketulusan, yang membuatnya terdiam lebih lama dari biasanya. Senyum kecil muncul tanpa ia sadari.
“Kalau saja setiap warga punya semangat seperti dia…” gumamnya, hampir seperti berbicara pada diri sendiri.
Namun Hasyim, yang berdiri tepat di sampingnya, mendengar dengan jelas. Ia menatap Arga sambil mengangkat alis nakal.
“...kamu gak bakal punya alasan buat ketemu dia tiap hari,” potong Hasyim sambil menepuk pelan bahunya.
Arga tersentak, lalu tertawa. “Daeng, jangan-jangan kamu cocok jadi penasihat cinta, bukan pengawas.”
Hasyim tertawa lebih keras. “Saya banyak bakat, cuma gaji saja yang kurang.”
Keduanya tertawa lepas. Untuk sesaat, ketegangan yang menekan mereka selama berminggu-minggu terasa mengendur. Di tengah perjuangan menahan tekanan politik dan ancaman anonim, momen ringan seperti itu terasa berharga.
Pelatihan terus berlangsung hingga matahari perlahan turun. Anak-anak muda membagi tugas, membuat daftar zona TPS yang rawan pelanggaran, mengatur shift pemantauan, bahkan menyiapkan grup komunikasi darurat.
Sementara itu, di luar balai, hujan mulai turun tipis-tipis, membasahi mural dan stiker PantauKita.id yang baru ditempel. Kota seolah bernapas lebih cepat, lebih berani.
Dan di antara lorong-lorong itu, gerakan kecil yang lahir dari keresahan kini berubah menjadi gelombang besar , sebuah suara yang tak lagi bisa diabaikan.
Penulis : @rminth