Lompat ke isi utama

Berita

Lensa Pengawasan: Arga dan Cahaya Demokrasi Kota Daeng (Bagian 9 : Pengkhianatan)

Bawaslu Kota Makassar

Hujan yang sejak sore mengguyur kota akhirnya berhenti, tetapi udara tengah malam masih menyisakan dingin yang menusuk. Lampu kantor kecil PantauKita.id di lantai dua sebuah ruko tetap menyala terang, meski lingkungan sekitarnya sudah lama tertidur. Malam itu, ketenangan kota tidak menjangkau mereka. Ada badai lain yang jauh lebih berat sedang berlangsung di dalam ruangan itu.

Alarm sistem tiba-tiba berbunyi, membuat Sinta yang masih bekerja di depan komputer langsung menegang. Layar di depannya berkedip, kemudian menunjukkan serangkaian kode aneh yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Dalam hitungan detik, puluhan data laporan menghilang satu per satu. Sebagian laporan berubah isinya—nama yang berbeda, lokasi yang disamarkan, bukti foto yang tiba-tiba korup.

“Ini bukan hacker amatir,” gumam Sinta dengan suara serak, jarinya gemetar saat menekan keyboard. “Mereka tahu persis apa yang mau dihapus. Mereka tahu titik paling rapuh.”

Arga, yang baru turun dari lantai atas setelah istirahat singkat, langsung berdiri di sampingnya. Matanya terpaku pada layar. “Kita masih punya backup,” katanya berusaha tenang.

Namun Sinta menggeleng perlahan. “Backup juga rusak. Semuanya. Seolah… semuanya disiapkan dari jauh-jauh hari.”

Ucapan itu menghantam ruangan seperti palu berat.

Beberapa menit kemudian, langkah tergesa terdengar dari tangga. Hasyim masuk dengan wajah yang lebih pucat dari biasanya. Bajunya basah oleh sisa hujan, napasnya belum stabil.

“Ada kabar buruk lagi,” katanya, dan itu sudah cukup membuat Arga merasakan firasat tak enak.

“Apa lagi?” tanya Arga.

“Taufan,” jawab Hasyim lirih. “Salah satu relawan yang jaga sistem data malam ini. Saya cek ulang… ternyata dia orangnya tim sukses. Sudah lama. Dia pakai nama palsu, tapi saya kenal wajahnya waktu diperiksa ulang. Semua cocok.”

Ruangan seketika membeku.

Sinta menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Jadi… dari dalam juga bocor?”

Arga tidak langsung menjawab. Ia menarik napas panjang, mencoba menahan kemarahan yang mulai membara. “Itu sebabnya,” katanya pelan namun tegas, “pengawasan bukan cuma soal teknologi. Bukan cuma soal data. Tapi soal kepercayaan.”

Keheningan panjang mengikuti kata-katanya. Masing-masing dari mereka seakan tenggelam dalam pikiran sendiri.

Hingga akhirnya, tanpa perlu komando, mereka memutuskan tetap tinggal di kantor malam itu. Tidak ada yang pulang. Tidak ada yang ingin meninggalkan satu sama lain dalam keadaan genting seperti ini.

Sinta kembali duduk di depan komputer, menatap layar yang kini hanya menampilkan pesan kesalahan. Matanya lelah, tapi ada api kecil di balik tatapannya—api yang tidak mau padam.

Di pojok ruangan, Arga menyalakan mesin kopi kecil. Suara gemuruh mesin itu terasa kontras dengan ketegangan malam. Beberapa menit kemudian, ia kembali membawa dua gelas kopi panas.

“Masih mau lanjut?” tanyanya pelan sambil meletakkan gelas di meja Sinta.

Sinta mengembuskan napas panjang, lalu tersenyum tipis. “Kalau saya nyerah, kamu kehilangan alasan buat marah-marah tiap malam.”

Arga tertawa kecil, tawa yang entah bagaimana berhasil membuat suasana sedikit lebih hangat. “Kalau saya kehilangan kamu, itu baru masalah.”

Sinta menoleh, menatapnya. Ada jeda beberapa detik yang terasa jauh lebih panjang dari seharusnya. Hening, tapi bukan hening kosong—hening yang terisi sesuatu yang sulit diungkapkan. Hening yang menghubungkan mereka tanpa perlu kata.

Di luar, lalu lintas sudah mati, hanya tersisa suara rintik air yang menetes dari talang. Di dalam ruangan kecil itu, dua orang tetap bekerja dengan mata yang berat, tetapi semangat yang tetap keras kepala.

Pengkhianatan telah membuka luka besar di antara mereka, namun justru malam itulah yang memperlihatkan betapa kuatnya mereka berdiri. Dan di tengah tumpukan data rusak, koneksi jaringan yang compang-camping, serta rasa percaya yang dikhianati—mereka menemukan sesuatu yang tidak bisa diretas siapa pun.

Saling percaya. Dan mungkin… sesuatu lebih dari itu.

Penulis : @rminth